Rasanya sudah sangat lama tidak menulis sesuatu tentang aku, kamu, kita, dia, dan mereka. Sejak aku putuskan untuk membakar semua arsip-arsip tulisan tentang aku, kamu, kita, dia, dan mereka. Tulisan bercorak tinta silver di atas lembar-lembar kertas hitam yang sudah menjadi bagian hidupku beberapa tahun lalu. Aku memutuskan membakarnya karena tidak mau membagi kisah tidak indah itu, yang aku anggap sebagai beban, kepada siapa saja yang membaca tulisanku. Teringat pada perkataan seorang teman, "bukannya kalo sesuatu di bagi itu makin berkurang? maka dari itu berbagilah", tapi apakah layak kisah-kisah yang tidak terlalu indah itu dibagi-bagikan layaknya sembako yang akan menjadi berkah bagi siapa saja yang memperolehnya?
Aku masih berpikir...lama...karena otakku dalam hal melogika suatu masalah agak lemot kayak prosesor Intel Pentium yang kini tergantikan oleh Intel Core i7.
Setelah menguras banyak tenaga untuk berpikir sehingga aku merasakan lapar lagi :-P , hal itu ada benarnya juga.
Keuntungannya :
1. bebanku bisa agak sedikit ringan
2. orang yang membaca, melirik, mendengar, menguping mungkin bisa terilhami, belajar dan mengambil secuil kisah yang aku tulis.
Kekurangannya :
1. pasti ada yang bilang "halah..tulisan gak mutu..curhatan gak penting..".
2. pasti akan membuat orang merasa bosan membacanya. atau bahkan membuat mata jereng karena tulisannya gak jelas.
3. dan pasti masih banyak lagi kekurangannya..males nyebutin.. :-P
tapi dari kekurangan-kekurangan dan kegagalan-kegagalan itu, aku bisa belajar untuk memperbaikinya..ambil sisi positifnya saja. karena kegagalan merupakan salah satu cara Tuhan menempatkan kita pada sesuatu yang lebih baik...
Akhirnya, dengan ditemani segelas air putih (tidak ada Cappuccino seperti biasanya :-D) dan alunan lagu I Believe My Heart mengalun-alun mendayu-dayu di telingaku, terpostinglah tulisanku lagi...karena aku masih ingin menulis lagi...
Terimakasih buat kamu, dia, dan mereka yang selalu ada buat aku...
yang dengan tulus selalu mendengar segala keluh kesahku...
yang memberi arahan ketika jarum kompasku tidak menunjukkan arah yang benar...
yang menjadi sandaran saat aku menangis...
dan yang menjadi apa saja untuk menjadikanku lebih baik..
that's all...